


DISUSUN OLEH :
NOVITASARI A.
X AP 3
SMK NEGERI 1 PURBALINGGA

![]()
KELUARGA PAK ACHMAD
![]()
Malam itu terasa sangat dingin. Angin sepoi-sepoi meniup masuk diantara celah-celah kaca jendela rumah Pak Achmad. Keadaan malam itu di kampong Bojong Koneng sangat sepi. Apalagi di angkasa tidak ada satu pun bintang yang tampak, karena terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan.
Rumah-rumah penduduk yang masih menggunakan cahaya lampu lentera, menyebabkan pemandangan rumah tampak hitam pekat seperti raksasa berbaris hendak menuju
Suasana kampung menjadi sunyi, tidak ada satu pun orang kampong Bojong Koneng berani keluar rumah. Bukan berarti daerah itu tidak aman, akan tetapi suasana pada malam itu bulan tidak tampak, ditambah gerimis mulai turun.

Tidak terkecuali di rumah Pak Achmad malam itu. Tidak seorang pun dari keluarga Pak Achmad beranjak dari rumah. Mereka lebih memilih diam di rumah daripada harus keluar karena diperkirakan malam itu akan turun hujan. Keadaan santai semalam itu digunakan oleh Pak Achmad untuk bertukar pikiran dengan anak-anaknya.
Ketika itu Pak Achmad langsung menyuruh Amir untuk memanggil kakak dan adik-adiknya supaya berkumpul dib alai pertemuan. Amir ppun langsung memanggil kakak dan adik-adiknya, tidak sampai
Melihat anak-anaknya sudah hadir semua, lalu Pak Achmad mulai berbicara. Dalam pertemuan itu Pak Achmad bertukar pikiran mengenai msalah anak-anaknya di sekolahan, walupun Si Ardi belum sekolah tetapi sengaja di ikutkan. Hal ini dimaksudkan supay kalian selalu kompak antar sesama saudara yang satu dengan yang lainnya.
Pak Achmad memberikan kesempatan bicar kepada anak-anaknya tentang apa saja yang menjadikan keluhan anak-anaknya, terutam yang ada hubungannya dengan masalah belajar. Kesempatan tersebut di tunjukan kepada Andi, anak sulungnya. Dan kemudian Andi pun menyampaikan keluhannya yaitu masalah pembayaran SPP yang rangkap.
Setelah Andi selesai menyampaikan keluhannya, kemudian Ayahnya hanya menjawab bahwa masalah tersebut, akan diusahakan yang terpenting harus rajin belajar saja. Kesempatan kedua di ajukan kepada Amir yaitu anak ke duanya. Tetapi keluhan yang dialami oleh Amir sama seperti kakaknya.
Akan tetapi, ada sedikit ganjalan yang selama ini ingin sekali Amir kemukakan. Dan kemudian Amir mengemukakan keganjalannya yaitu mengenai pemeliharaan lingkungan Gunung Puyuh. Hal ini menyangkut kepentingan umum. Kita ketahui bahwa orang-orang kampung karang asih yang berada di sebelah barat gunugn puyuh atau sebelah barat kampung kita ini, banyak yang menebang kayu secara sembarangan, baik untuk kayu bakar ataupun dijadikan bahan bangunan.
Setelah Amir mengemukakan keganjalannya, akan tetapi ayahnya hanya berkata bahwa masyarakat kita pada umumnya masih belum mengerti terhadap manfaat memelihara lingkungan, dan apabila kita mencegah mereka maka mereka akan marah, dan akibatnya mereka akan membenci kita.
Dan kemudian Andi meminta pendapat kepada ayahnya bagaimana sebaiknya yang harus kita lakukan, akan tetapi ayahnya hanya menanggapi bahwa memang kita seharusnya menasihatinya, namun sekalipun kita berbicara, kita tidak akan ditanggapinya, kecuali kalau kalian sudah menjadi insinyur, baru usul kalian akan mereka dengar. Jawaban tersebut di iringi canda tawa dan kemudian Pak Achmad meyakinkan kalau masalah itu tidak usah dipikirkan lagi.
Kesempatan berikutnya diberikan kepada Agus dan Ari. Dikarenakan Agus dan Ari tidak ada masalah, kemudian Pak Achmad memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk melanjutksn tugasnya masing-masing dan tidur.
Tetapi Amir malah tetap berpikir, dikarenakan belum puas terhadap jawaban Ayahnya. Ketika itu kakak Amir menegurnya supaya masalah tersebut tidak perlu dipikirkan. Andi kakak Amir sebenarnya sangat mendukung kepada ide dan gagasan, atau jalan pikiran adiknya.
Namun, sebagai anak tertua yang melindungi adik-adiknya, Andi selalu tidak menampakkan ambisi dan emosinya. Andi menyadari, bahwa seorang kakak adalah calon pengganti Bapaknya. Ia harus menjadi panutan dan contoh tauladan bagi adik-adiknya. Tanpa terasa sudah jam 1 malam, Amirpun kaget dan langsung istirahat, untuk persiapan besok menuju Gunung Puyuh.
Sebelum menarik selimut, terlebih dahulu Amir memeriksa kunci pintu-pintu depan, samping, dan dapur. Bersamaan dengan desiran daun tebu yang ditiup angin, cahaya rembulan di luar semakin indah. Seluruh penghuni Desa Bojong Koneng kelihatan sudah tidur dengan pulas hanya aduan suara yang sedang tidur nyenyak.
BERANGKAT KE GUNUNG PUYUH
![]()
Pagi itu sangat cerah, matahari sudah mulai tampak di ufuk timur. Suara burung perkutut dan burung-burung manyar ramai bernyanyi. Orang-orang kampung Bojong Koneng sudah banyak yang hilir mudik menuju tempat kerjanya. Pagi itu sedang sibuk menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk berangkat ke Gunung Puyuh sekalipun Ayahnya setengah melarang tapi Amir tetap bersikeras untuk berangkat.
Ketika Amir sampai di Gunung Puyuh seketika ia melihat keadaan Gunung Puyuh betapa terkejutnya Amir melihat Gunung Puyuh sebelah barat ternyata sudah gundul. Pemandangan alam Gunung Puyuh yang dulu penuh dengan pohon-pohon yang hijau dan rindang, kini hanyalah tinggal kenangan. Sekarang yang tampak hanyalah kulit gunung yang gersang saja. Akibatnya, kampung Karang Asih tampak jelas dilihat dari bawah kaki Gunugn Puyuh. Akan tetapi, kampung Karang Asih tidak bisa dilihat dari kaki gunung karena terhalang oleh pepohonan yang hijau dan kering.
Tak berapa lama Amir bertemu dengan Pak Sumarno pejabat PPL Pertanian. Mereka berbincang-bincang mengenai keadaan Gunung Puyuh yang gundul, Pak Sumarno berkata bahwa gunung ini gundul disebabkan orang-orang kampung Karang Asih belum mengerti akan pentingnya melestarikan lingkungan.
Tidak berapa lama Pak Sumarno berpamitan dengan Amir. Setelah Pak Sumarno pergi, Amir berpikir dan bicara dalam hatinya bahwa untuk menyelamatkan lingkungan khususnya di sekitar Gunung Puyuh, ia bermaksud membentuk kelompok pencinta lingkungan bersama-sama teman-temannya di sekolahan, ia merasa yakin teman-temannya banyak yang mau mendukung niat baiknya itu. Setelah ia berpikir sejenak, Amir pun pergi meninggalkan Gunung Puyuh tersebut.
Sambil menuju pulang, Amir sambil mengamati keadaan Gunung Puyuh. Ia mengalihkan pandangannya ke sebelah timur. Di sekitar itu terhampar hutan yang lebat. Pohonnya yang tinggai, rimbun dan hijau, seperti ditata rapi. Setelah itu liriknnya dibelokan ke hilir. Hutan itu melepas sungai, yang mengalir mengikuti pinggiran lembah yang berlekuk-lekuk, terhimpit di antara dua bukit.
Ke sudutnya lagi terhampar petak-petak sawah. Tanaman sejenis palawija menghiasi tanggul. Pohon padi yang baru setinggi lutut, berombak goyang ditiup angin. Dari kejauhan terdengar suara seruling gembala kerbau. Iramanya membuat hati berkesan, sepertinya mampu mengobati kelelahan.
Setelah selesai menjelajahi di sekeliling gunung yang gundul itu, Amir beranjak pulang. Hatinya tetap diliputi rasa kecemasan. Langkahnya dipercepat, seolah tak sabar ingin menceritakan kepada bapak dan saudara-saudaranya, tentang keadaan yang sebenarnya di Gunung Puyuh.
Amirpun membuat catatan-catatan, gambar-gambar hutan dan tanah yang tandus, serta gelondongan kayu-kayu besar dalam buku agenda dan lembaran kertas stensilan, yang sengaja ia persiapkan, sebelum berangkat.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Amir sudah berada di pintu halamaan rumahnya. Kakak dan adik-adiknya berhamburan ke luar menyambut kedatangannya. Akan tetapi, ibunya menampakkan raut muka yang cemas karena kegemaran anaknya itu. Sebetulnya, ibunya sangat keberatan, jika Amir harus bepergian ke hutan, apalagi ke gununga yang mengundang bahaya.
Amir sampai di rumah kemudian menceritakan pengalamannya kepada keluarganya. Terlebih dahulu ia mandi dan istirahat setelah seharian menempuh perjalanan ke Gunung Puyuh.
MEMBENTUK KELOMPOK
Esok hari pun tiba, Amir berangkat sekolah tidak lupa ia juga menceritakan pengalamannya ke teman-temanny. Seketika itu Amir langsung membuat usul untuk mrmbuat kelompok dengan tujuan mengatasi masalah Gunung Puyuh yang gundul.
Kelompok tersebut terdiri dari delapan (8) anak, termasuk Amir di dalamnya. Dalam musyawarah tersebut mereka membentuk kelompok yang bernama “Kelompok Pencinta Lingkungan” (KPL).
Dalam musyawarah tersebut mereka membuat ikrar bersama-sama yang isinya : Berupa bertekad dan berniat sekuat tenaga akan, 1. memelihara dan mencintai lingkungan, 2. akan lebih mempererat tali persaudaraan di antara merek, serta senasib sepenanggungan.
Hal ini mereka ikrarkan, setelah bubuaran pertemuan di luar jam sekolah. Tepatnya jam tiga belas, seperempat bertempat di ruang kelas eman. Pada saat itu, mereka berhasil merumuskan pembentukan wadah kegiatan sosial, yang mereka namakan “Kelompok Pencinta Lingkungan”.
Di hari Sabtu yang bersejarah itulah, mereka membuat satu kejutan dan gebrakan, yang membuat Bapak dan Ibu Gurunya kagum, serta mendukungnya.
Setelah mereka setuju kemudian mereka membubarkan musyawarahnya dan pulang ke rumah masing-masing. Sambil pulang mereka membuat rencana akan pergi ke Gunung Puyuh untuk melihat keadaan Gunung Puyuh pada hari minggu depan, dengan rencana yaitu akan berkumpul di rumah Amir.
SI KANCIL BERJUANG
![]()
Hari minggu telah tiba, kira-kira pukul 8 pagi mereka sudah berkumpul di rumah Amir. Setelah mereka berkumpul dan mengecek perlengkapannya, mereka langsung pergi ke Gunung Puyuh. Sebelum mereka pergi, mereka berpamitan dahulu kepad orang tua Amir untuk meminta restu.
Tak begitu lama, kemudian mereka sampai di Gunung Puyuh dan mereka langsung mencari bibit jambu mete yang pernah diceritakan oleh Pak Sumarno pejabat GPL waktu bertemu dengan Amir seminggu yang lalu. Tanpa sengaja Ade teman Amir terjatuh dan terpaksa menghentikan perjalanan tersebut.
Tetepi seketika itu Amir melihat gubug yang tidak jauh dari tempat dimana Ade terjatuh. Mereka kemudian mendekati gubug tersebut, tanpa sengaja mereka menemukan bibit jambu mete di belakang gubug tersebut, sambil melihat-lihat bibit tersebut, mereka beristirahat bersama-sama pula mereka mengeluarkan air minum.
Seketika itu pula datang 3 orang Bapak-bapak berjalan menuju mereka. Tiga bapak tersebut bernam Pak Harun, Pak Parjo dan Pak Hasan. Kemudian Pak Harun bertanya kepada mereka yang sedang beristirahat, dan mereka akhirnya bertukar pikiran tentang keadaan Gunung Puyuh.
Setelah Amir dan teman-temannya mengetahui penyebab mengapa Gunung Puyuh menjadi gundul sebelah, dikarenakan bukan masyarakat Karang Asih tidak sadar akan lingkungan dan tidak semua masyarakat kampung Karang Asih yang menebangi pohon, akan tetapi hanya Pak Juhra dan anak buahnya.
Dikarenakan bibit jambu mete tersebut akan dipindahkan ke arah timur,akhirnya mereka meminta izin agar bibit jambu mete tersebut akan di tanami. Akirnya para Bapak-bapak tersebut memberikan izin dan memberi pesan agar berhati-hati dalam menanam bibit tersebut.
Setelah mendapata izin, mereka langsung menanam bibit tersebut tanpa membuang waktu. Ternyata kira-lira 2 jam, mereka sudah selesai menanam jambu mete dan berkumpul kembali lagi di gubug diman mereka tadi istirahat bersama.
Setelah mereka cukup untuk beristirahat kemudian mereka beranjak pulang. Dalam menuju puplang mereka sambil bercerita tentang keadaan Gunung Puyuh dan Pak Juhra. Tanpa disadari mereka telah sampai di mulut jalan Bojong Koneng, dan merekapun saling mengucapkan salam perpisahan.


PAK JUHRA
![]()
Suasana hari itu sangat indah. Panorama pagi yang cerah diikuti embusan sang bayu, dan dihiasi oleh tumbuh-tumbuhan rindang.
Nyanyian burung perkutut seakan menghibut keheningan suasana pagi itu. Tidak ada satu pun suara yang dapat membuat bising manusia. Sungguh, orang sangat betah tinggal di kampung Bojong Koneng.
Di sebelah kampung Karang Asih berdiri tegak sebuah karang yang diatasnya ditumbuhi pohon-pohon kecil menambah indahnya pemandangan di alam itu membuat orang-orang betah tinggal di
Namun sayang keadaan alam yang indah itu, dirusak oleh kelompok Pak Juhra. Ia dan anak buahnya mempunyai watak yang tidak terpuji karena ia sering membuat ulah yang tidak baik terhadap masyarakat Kampung Karang Asih, dan tidak sedikit masyarakat di kampung itu yang mengharapkan Pak Juhra segera meninggalkan kampung Karang Asih.
Usaha mereka dalam menanam bibit jambu mete telah sia-sia, dikarenakan Pak Juhra sudah mengetahui bahwa bibit jambu mete itu telah hilang di gubug dan telah ditanami oleh KPL di bagian timur.
Setelah Pak Juhra mengetahui hal itu, kemudian Pak Juhra memerintahkan anak buahnya untuk mencabuti bibit jambu mete yang sudah ditanami. Tanpa disuruh 2 kali anak buah Pak Juhra melaksanakan tugasnya.
Bukan hanya, Pak Juhra menyuruh untuk mencabuti bibit jambu mete, akan tetapi Pak Juhra juga menyuruh anak buahnya untuk menekankan larangan keras kepada orang-orang yang berusaha menanami jenis pepohonan di ssekitar kawasan Gunung Puyuh, dikarenakan kawasan tersebut sengaja di gunduli yang akan di pergunakan untuk di jadikan ladang.
Semua anak buah Pak Juhra dikerahkan secara penuh untuk mengawasi di wilayah Gunung Puyuh dan sekitarnya. Mereka diperlengkapi dengan peralatan pengaman untuk menjaga kemungkinan amukan
Ruang gerak Amir bersama kelompoknya dipersempit. Kemana saja mereka bergerak dan melangkah, selalu mendapat intaian dan monitoring dari anak buah Pak Juhra.Dengan tersebarnya kabar bahwa kegiatan Amir bersama petugas PPL telah mengadakan gebrakan dengan menanami pohon buah jambu mete maka Pak Juhra dan anak buahnya siaga penuh.
Akhirnya, kelompok KPL mengetahui bahwa bibit jambu mete telah dicabut dan dirusak oleh anak buah Pak Juhra. Akan tetapi, nyali dan tekad mereka tidak mundur. Mereka sudah bertekad pantang menyerah, apapun yang terjadi dan siapapun yang menggagalkan harus siap mereka hadapi. Cara yang terbaik bagi mereka adalah melalui dialog atau pertemuan dan musyawarah untuk mufakat. Prinsip demikian yang mereka canangkan dalam kesepakatan bersama.
Untuk penanaman di sebelah timur, mereka tidak mendapat rintangan yang berarti seperti di sebelah barat, meski anak buah Pak Juhra tetap mondar-mandir mengawasinya. Dengan bekal dan tekad pantang menyerah inilah, akhitnya anak buah Pak Juhra yang bertampang angker dan tajam, membiarkan mereka bebas memasuki kawasan sebelah timur. Setelah beres dan dianggap sudah cukup untuk menutupi gundulan-gundulan, mereka pun pulang.
Sambil berjalan pulang, mereka berbincang-bincang. Mereka berdiskusi tentang manfaat penghijauan dan gerakan “Penanaman Seribu Pohon”. Bagi Amir, gerakan ini sungguh menakjubkan dan menambah semangat dan angin segar. Hal itu mendorongnya untuk meneruskan hobinya sebagai pencinta alam.
Selanjutnya mereka berpidah, menuju rumahnya masing-masing. Mereka tidak lupa bersalaman dan mengucapkan salam
PANTANG MENYERAH
![]()
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Kelompok Pencinta Lingkungan hari ini mengadakan pertemuan lagi di rumah Amir. Memang pertemuan hari ini tidak seperti biasanya, diadakan hari Sabtu sore, mengingat ada masalah penting yang perlu segera dimusyawarahkan.
Amir menceritakan kabar dari Pak Sami’un bahwa tanaman yang kita taman itu telah dicabuti oleh anak buah Pak Juhra atas perintah Pak Juhra. Walaupun mereka telah mendengar kabar tersebut, Amir dan teman-temannya pun tidak putus asa, nyali serta tekad mereka tidak mundur.
Setelah itu, mereka memusyawarahkan tindakan selanjutnya untuk Gunung Puyuh di rumah Amir. Mereka saling bertukar pikiran, akhirnya mereka membuat rencana untuk besok hari yaitu pergi ke Gunung Puyuh dengan tujuan menanami kembali lahan Gunung Puyuh yang gundul. Dikarenakan keadaannya sudah sore dan keputusan sudah ada, maka mereka berpamitan dengan Orang Tua Amir dan Amir.
Malam harinya Amir tidak bisa tidur, karena memikirkan keadaan Gunung Puyuh yang semakin gundul diakibatkan oleh Pak Juhra dan anak buahnya. Karena terlalu memikirkan hal tersebut, sehingga Amir tidak terkendali dan kemudian Amir berbicara keras sambil membanting bukunya. Suara tersebut didengar oleh Ayahnya, sehingga Ayahnya mmanggil Amir dan Amir disuruh untuk cepat tidur karena hari sudah malam.
Esok hari sekitar pukul 7.30, mereka telah berkumpul dirumah Amir. Setelah mereka berkumpul kemudian mereka pergi ke Gunung Puyuh. Mereka pergi ke Gunung Puyuh mengambil jalan pintas lewat bagian barat Gunung Puyuh. Akan tetapi ketika mereka sampai, mereka melihat anak buah Pak Juhra yang sedang menjaga kawasan Gunung Puyuh. Karena itu, mereka tidak langsung menjalankan rencananya tetapi mereka mengawasi gerak-gerik anak buah Pak Juhra.
Tidak berapa lama datang rombongan Pak Hasan, dan mereka langsung menyapanya dengan hati gembira. Setelah itu mereka menjalankan rencananya, akan tetapi mereka tidak menanami kawasan Gunung Puyuh bagian barat tetapi bagian timur dikarenakan anak buah Pak Juhra sedang mengawasi kawasan Gunung Puyuh di bagian barat.
Mereka yakin kalau tempat itu dibiarkan gundul seperti itu pasti akan menimbulkan bencana. Akan tetapi, disatu sisi mereka takut oleh Pak Juhra sehingga mereka mengambil kesimpulan bekerja di saat Pak Juhra atau anak buahnya lagi tidak ada di tempat.
Setelah dua jam lebih mereka bekerja, akhitnya kelompok KPL dan rombongan Pak Hasan pulang ke kampungnya masing-masing. Amir terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada Pak Hasan dan rombongannya.
Keesokan harinya mereka pergi lagi ke Gunung Puyuh bagian barat. Mereka mengintip dari arah yang strategis. Setelah yakin bahwa tidak ada seorang pun di
Baru saja tiba di atas gunung, tiba-tiba ada suara yang memanggil mereka dari arah bawah. Tiba-tiba dari arah bawah kelihatan tiga orang datang menuju ke arah Amir dan teman-temannya. Kurang lebih empat langkah lagi mendekat ke arah Amir, tiba-tiba orang itu berbicara yang ternyata bernama Pak Arman. Pak Arman mengusir mereka untuk tinggalkan tempat ini dikarenakan Pak arman telah tahu bahwa mereka adalah KPL.
Mendengar ancaman Pak Arman demikian, Ade, Deni, dan yang linnya merasa takut sehingga dengan bahasa isyarat mereka mengajak Amir dan Fendy pulang meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, berbeda halnya dengan Amir dan Fendy, mereka tidak merasa takut karena mereka yakin bahwa tindakannya adalah benar.Akhirnya mereka pun mengalah dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
MUSIM HUJAN
Tiga tahun sudah waktu terus berlalu. Amir dan Fendy pun sudah duduk dibangku kelas 8 SMP Sukamaju. Sementara Ade dan Deni yang linnya tidak melanjutkan sekolahnya, karena tidak mempunyai biaya. Mereka tetap saja tinggal di kampung Bojong Koneng bekerja membantu orang tuanya di sawah dan di ladang.
Begitu juga dengan ladang Pak Juhra di bukit Gunung Puyuh di sebelah barat, sudah tiga kali panen. Sementara yang berada di sebelah timur bukit tersebut, tidak jadi ditanami padi karena penduduka kampung Bojong Koneng terus mempertahankan agar bukit di sebelah timur tidak dijadikan ladang.
Karena sifat dan watak Pak Juhra yang semakin lama semakin brutal dan tidak terpuji, menyebabkan masyarakat kampunga Karang Asih tidak ada satu pun yang mau mendekatinya. Semuanya bersifat acuh kepada Pak Juhra dan anak buahnya.
Oleh karena itulah, Pak Juhra memisahkan diri untuk membangun rumah di bawah kaki Gunung Puyuh sebelah barat. Semua pabrik dan perusahaannya dipindahkan dekat dengan rumahnya yang sekarang. Dengan demikian diharapkan agar dapat hidup dengan tenang dan sekaligus sambil menunggui ladangnya di atas Gunung Puyuh.
Pada saat itu Amir kebetulan ada di kampung, sebab sekolahanya sedang liburan kenaikan kelas. Mendengar Amir ada di rumah, Ade, Deni, Fendy, dan lainya bermaksud mau bersilaturahmi. Mereka berangkat ke rumah Amir sambil membawa payung, sebab kebetulan bulan itu merupakan bulan mijih, bulan turunya hujan.
Ketika mereka sampai di rumah Amir, mereka menceritakan keadaan Gunung Puyuh saat ini. Karena saat ini adalah musim penghujan, Amir takut akan terjadi sesuatu yaitu longsor. Mereka membuat rencana tetapi agak susah untuk menjalankannya dikarenakan bulan ini adalah musim penghujan dan hujan tidak berhenti-henti reda.
Amir merasa sangat khawatir sebab dia yang paling tahu, bagaiman rapuhnya tanah di sebelah barat. Di sekitar itu, tanahnya gundul dan gersang. Mungkin masyarakat Karang Asuh tidak memperhatikannya sejauh itu, sehingga mereka tetap tenang.
Setelah hujan reda, Ade, Fendy, Deni, dan lainya pamitan kepada Pak Achmad sekeluarga untuk pulang. Di sepanjang jalan mereka tidak ada satu pun yang mau bicara, semuanya diam, menahan dinginnya suasana sore hari itu.

LONGSOR
![]()
Suasan kampung Bojong Koneng yang biasanya seppi dan damai, kini tiba-tiba berubah. Suasana kampung menjadi ramai dan menakutkan, dari kejauha terdengar teriakan orang-orang, gunung longsor…gunung longsor…
“Awas gunung longsor….”
Suara itu sambung amenyambung. Siapa saja yang mendengar teriakan tersebut, maka orang itu wajib meneriakan hal yang sama. Sehingga tidaklah heran apabila dalam waktu sekejap masyarakat Kampung Bojong Koneng dan daerah yang ada di sekitarnya sudah mengetahui seluruhnya.
Tidak lama kemudian tersiar pengumuman yang berisikan seluruh penduduk yang dewasa segera datang ke kampung Karang Asih, Karena diperkirakan rumah Pak Juhra dan anak buahnya terkubur oleh longsor. Ketika mendengar pengumuman tersebut mereka langsung menuju ke tempat kejadian.
Saat orang ramai bekerja, tiba-tiba pekerjaan semua terhenti dikarenakan dari arah barat terlihat iring-iringan manusia. Ternyata iring-iringan tersebut tidak lain adalah keluarga Pak Juhra dan anak buahnya. Tidak biasanya Pak Juhra datang dengan muka geram, sering memandang sinis kepada setiap orang, tak pernah tersenyum dan berkelakuan kasar.
Tapi saat itu dia langsung merangkul Pak Sekmat seraya berkata terima kasih.ketika melihat tindakan dan kelakuan Pak Juhra saat itu, maka semua masyarakat pun terdiam. Setelah itu Pak Juhra menceritakan kepada para warga bagaimana cara keluarga Pak Juhra dan anak buahnya bisa selamat.
Setelah Pak Juhra menceritakan semua kejadiannya, akhirnya Pak Juhra berharap agar besok pagi semua warga dapat berkumpul di kantor balai desa kampung Karang Asih. Pak Juhra pun mengundang Kelompok Pencita Lingkungan untuk bisa hadir di kantor balai desa besok.
MENDAPAT PENGHARGAAN
![]()
Kampung Bojong Koneng yang biasanya sepi dan sunyi kini berubah menjadi ramai bising. Di kantor balai desa berjubel banyak orang datang ingin mendengarkan dan menyaksikan acara pada hari itu. Melihat segala nya sudah siap, selanjutnya Kepala desa membuka acara.
Setelah itu memberikan kesempatan kepada Bapak Sekmat untuk menyampaikan sambutan, sebagai Wakil dari Camat Kecamatan Margaluyu. Setelah Pak Sekmat memberikan sambutan, akhirnya acara sampai pada sambutan yang dibawakan oleh Pak Sugiono.
Dalam sambutan tersebut, Pak Sugiono menyampaikan penghargaan kepada Kelompok Pencinta Lingkungan (KPL). Tanpa disuruh-suruh mereka langsung menuju ke depan. Atas jasanya, mereka diberi penghargaan dari Departemen Kehutanan dan dari Pemerintah Daerah.
Setelah penghargaan tersebut diserahkan, mereka memegang dan menciumnya dengan perasaan bangga dan haru. Walaupun penghargaan adalah bukan mereka sasarannya, yang menjadi tujuan mereka adalah bagaimana menciptakan hasil karya yang berguna bagi masyarakat khususnya, dan umumnya bagi bangsanya.
Pagi itu tampak cerah,Amir sudah siap-siap berangkat ke mantan sekolahannya bersama teman-temannya. Mereka datang akan membagi kebahagiaan dengan mantan Bapak/Ibu Gurunya, juga dengan adik-adik kelas dan seskolahannya bahwa mereka mendapat hadiah dan piagam tropi dari Departemen Kehutanan dan Pemerintah setempat. Sebelim memberi tahu pun, pimpinan sekolah beserta guru-gurunya pun sudah mengetahui hal tersebut.
Sebagai tanda syukur, Pemimpin sekolahnya mengadakan upacara khusus untuk menyambut dan menyampaikan rasa bangganya, rasa terima kasihnya kepada Kelompok Pencinta Lingkungan (KPL) anak didiknya sendiri, berupa penobatan sebagai “Murid Teladan”.
Dalam Upacara tersebut dihadiri juga oleh tamu undangan terhormat, seperti Bapak Unsur Muspika, Ormas Kepemudaan seperti KNDI, AMPI, Para Tokoh, Sesepuh Warga Masyarakat Bojong Koneng dan Karang Asih.
Dalam upacara tersebut KPL di pipanggil untuk menaiki panggung upacara untuk menerima tanda mata “Kanineung”, dan Amir dipersilahkan untuk menyampaikan pesan. Setelah selesai Amir berbicara, Pemimpin sekolah memberi kesempatan kepada salah satu Unsur Muspika, Tokoh dan Sesepuh Warga Masyarakat Karang Asih dan Bojong Koneng untuk memberi tanggapan serta sumbangan sarannya.
Saat itu tepuk tangan pun bertambah riuh, mereka saling mengucapkan selamat bergantian. Tada terkecuali Pak Achmad dan Ibunya, yang diundang khusus, tertunduk lesu dan terharu. Butir-butir air mata berjatuhan saat merangkul Amir.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar